Kalau punya rencana ke China, baik itu berlibur, urusan kerjaan, atau urusan apapun juga, untuk memudahkan segala urusan kita dalam bertransaksi dan bayar membayar di sana, nge-install Alipay atau WeChat Pay itu wajib hukumnya.
Setelah install aplikasi Alipay atau WeChat Pay, untuk bisa digunakan sebagai alat pembayaran, kita harus terlebih dahulu mendaftarkan sumber dana yang akan digunakan. Kita bisa top-up dana seperti uang elektronik, atau mendaftarkan kartu debit atau kartu kredit, sehingga setiap melakukan pembayaran menggunakan Alipay atau WeChat Pay akan langsung membebankan ke rekening tabungan atau kartu kredit kita.
Kalau memungkinkan nih ya, sebaiknya jangan pake kartu debit. Sebenarnya saran ini berlaku umum sih, karena memang perbedaan antara cara kerja kartu debit dan kartu kredit yang dapat merugikan kita pada kasus-kasus tertentu.
Kartu Debit
Ketika kita bertransaksi menggunakan kartu debit, prosesnya itu pertama-tama akan melakukan pengecekan apakah saldo kita mencukupi. Jika tidak mencukupi maka transaksi ditolak. Jika mencukupi, rekening kita akan langsung dipotong sejumlah nilai transaksi.
Kartu Kredit
Saat bertransaksi, akan dilakukan pengecekan oleh sistem apakah kartu kita berstatus aktif dan limit kartu kredit masih mencukupi. Jika mencukupi, maka kartu kita akan di-charge dan limit kita akan berkurang sejumlah nilai transaksi.
Jadi, masalahnya di mana?
Ketika ada kesalahan di sisi pedagang atau apa pun itu sehingga perlu dilakukan pembatalan transaksi, di sinilah muncul permasalahannya. Kalau kita menggunakan kartu debit, dana langsung didebet dari rekening tabungan kita sejumlah nilai transaksi. Waktu dilakukan pembatalan transaksi, meskipun secara pencatatan di sisi pedagang dan jaringan pembayaran (Visa, Mastercard, dll) telah dibatalkan, tapi ternyata di bank kitanya belum tentu secara otomatis real-time langsung mengembalikan dananya ke rekening tabungan. Malah parahnya lagi, bisa memakan waktu beberapa hari baru masuk kembali dananya ke rekening.
"Beberapa hari" ini bisa cukup fatal akibatnya, apalagi kalau uang lagi pas-pasan atau kesalahan transaksinya bernominal besar. Wah wah, bisa luntang-lantung nggak makan di negeri orang kita.
Jadi kurang lebih sempat kejadiannya begini (bukan nilai transaksi sebenarnya, ini hanya untuk memberikan ilustrasi) ... Waktu itu beli sesuatu seharga misalnya 500rb. Tapi ternyata pedagangnya salah input 550rb. Pas transaksi sukses, dia menyadari kesalahannya, langsung minta maaf dan ngebatalin transaksinya. Kemudian mengulang lagi proses pembayaran dengan menginput nominal yang tepat. Kalau melihat begini, nggak ada masalah dong mestinya ya. Tapi problemnya begini:
- Rekening udah kepotong 550rb.
- Pada saat pedagang membatalkan transaksi, dana 550rb nggak langsung kembali masuk ke rekening.
- Pedagang menginput nominal transaksi yang benar 500rb.
- Masalahnya di sini, kalau saat awal saldo kita nggak sampe 1.050.000, maka kita nggak bakal bisa ngebayar transaksi di poin 3 di atas.
- Kalaupun kita punya saldo 1.050.000 di awal, kita bisa bayar transaksi poin 3, tapi duit di rekening jadi habis.
Kebayang kan ya betapa bahayanya ini. Bayangkan kalau duit pas-pasan dan habis. Atau 550rb yang belum kembali tersebut harusnya digunakan untuk keperluan lainnya. Misalnya transportasi, makan, dll. Wah, bisa langsung panic mode itu.
Ini beneran sempat kejadian, untung aja nggak sendirian di sana dan ada yang bisa nalangin alias nge-cover sementara.
Nah, kalau menggunakan kartu kredit nggak perlu mengkhawatirkan seperti yang di atas. Waktu pedagang melakukan pembatalan transaksi dan sudah oke di jaringan pembayaran (Visa, Mastercard, dll), maka limit kita aman.
Jadi ini buat perhatian para pembaca aja, nggak ada salahnya kita waspada dan berhati-hati. Mudah-mudahan nggak sampe kejadian seperti ini yaaaa.